[Info Gadget] - Tangisan di Malam Minggu
….. tetap cantik rambut panjangmu, meski pun nanti tak hitam lagi ….. ( Lirik Lagu Surat Untuk Clara, Last Child)
Rasanya maknyus mendengarkan lagu melow khas abg reformasi yang doyan nulis status di seluruh media sosial. Entah itu lagi mager, mau tidur, mau makan, mau pergi, mau kecan, atau mau mandi. Hidup bagaikan tak lengkap jika belum update dimana kita berada. Kalau masih zaman orde baru, update lagi diskusi mengenai “Negara Berdaulat ala Marxis” ngalamat bolong kepalamu dilewati timah panas yang datang dari sudut yang tak dapat diketahui oleh Ki Joko Badhe.
Reformasi tentunya perlu kita syukuri. Merasakan kehidupan yang pengap akibat proses produksi para pemilik modal yang tidak mau memberikan sedikit pun ruang untuk oksigen. Hutan-hutan di babad demi mendapatkan lahan baru gratisan, meski harus menyediaka ribuan harta, tahta, serta wanita untuk memuluskan jalan tersebut. Kalaupun tidak lolos, jangan salahkan calo abal-abal. Tho, dia tak pernah tahu bahwa yang menghubunginya, kaya atau miskin.
Kebebasan reformasi ini memberikan kesenangan bagi kaum muda-mudi untuk bermalam minggu ria dengan kekasih. Kalau pun itu harus dilakukan di depan kamar kos, tak masalah demi menjalankan ritual malam mingguan. Ditemani secangkir air putih dan sebungkus lanting. Hilir mudik motor dan mobil tidak lantas mengganggu keasyikan bercengkarama dengan Si Doi.
Lagi-lagi aku hanya bisa gigit jari sambil ngintip di pinggir jendela. Melihat begitu asyiknya Ida Rani Ayunda kala di ajak berbicara mengenai Thomas Hobbes, bahwa manusia sesungguhnya pemangsa lainnnya. Kalaupun itu hanya asumsi yang membuat gerakan kolonial besar-besaran. Ayunda, lantas membuka mulutnya untuk berpendapat, kalau yang kita alami sekarang adalah aksi Hobbesian. Tapi sayang, itu semua candaan yang sirna seketika. Lawan-lawan “politik” mencabut statuta pacar menjadi mantan, Ayunda tak terelakkan harus jatuh di lubang yang sama di KUA. Menangis bukan menjadi pilihanku kala itu, sebab skripsweet sudah menanti di meja tugas.
Gigitan kepada jari semakin keras, aku tidak kuasa menahan rasa untuk pergi ke wc yang masih saja antri. “Buah perut” yang sudah ada di ujung tanduk, harus di tahan sambil melihat kemesraan orang lain.
Meskipun mala mini “hajat kencan” tidak bisa terpenuhi sebelum ada pengisi yang baru. Meski skripsweet sudah selesai. Tapi “gebetan” masih menggantung jawaban kalau dia siap jalan dengaku. Banyak opini, bahwa jomblo penghuni kos pojok sangat tidak romantis ketika di ajak jalan bareng dan terlalu “filosofis-sosiologis- serta antroposentris”.
Entah, suara-suara sendu darimana yang membuat jomblo kos pojok selalu bribik-bribik melihat tetangganya menggandeng gadis belia untuk jalan ke PUJASERA (Pusat Jajanan Selera Rakyat). Lha, aku betah melongo nonton foto Nabila JKT1.
sumber gambar : arenatipskita.blogspot.com
